Selasa, 20 Juni 2017

Psikologi Pendidikan (Resume V)



PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH
Pengertian
Pendidikan anak prasekolah merupakan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak dalam keluarga dan diluar keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar yang dijalankan dijalur pendidikan sekolah.Menurut Biechler dan Snowman (1993), anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara tiga sampai enam tahun.
Masa ini merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan. Hurlock (1978) menyebutkan ada 10 aspek perkembangan yang dapat mendorong pertumbuhannya melalui pendidikan prasekolah. Kesepuluh aspek tersebut ialah kesehatan fisik, keterampilan, kemampuan berbicara (berkomunikasi), perkembangan emosi, perilaku sosial, sikap sosial, kreativitas, disiplin, konsep diri dan penyesuaian sekolah dan menurut Papalia Olds (1986) bahwa pendidikan prasekolah membantu perkembangan anak dalam berbagai aspek yaitu fisik, intelektual, sosial, dan emosional.
Masa ini juga merupakan masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi. Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan time for play sesuai pendapat Frank dan Theresa Caplan yang menyebutkan bahwa waktu bermain merupakan sarana pertumbuhanyang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupannya untuk tumbuh dalam lingkungan budaya dan siap dalam belajar formal. Perasaan otonomi anak juga berkembang dengan adanya kesempatan bereksplorasi diluar rumah.
Menurut Keneth Rubin dkk (1976), ada 4 jenis kegiatan bermain bebas anak masa prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial dan kognitif anak, yaitu:
 1. Bermain fungsional yaitu melakukan pengulangan gerakan otot dengan atau
     tanpa objek.
 2. Bermain konstruktif yaitu melakukan manipulasi terhadap benda-benda dalam
           kegiatan untuk mengkreasikan/mencipatakan sesuatu.
3. Bermain dramatik yaitu dengan menggunakan situasi yang imajiner.
 4. Bermain menggunakan aturan.
Dengan bermain, anak bebas beraksi dan mengkhayalkan sebuah dunia lain, sehingga dengan bermain ada elemen petualangan. Anak juga dapat bebas mengekspersikan dan mengeksplor dirinya dengan lingkungan sekitar. Adanya kesempatan bermain dengan anak-anak lain juga dapat menjadikan mereka memiliki banyak kesempatan untuk bekerjasama dan memahami perspektif serta perasaan orang lain.

Tujuan
Ada beberapa tujuan dilaksanakannya pendidikan anak prasekolah ini, yakni:
1.      Melatih gerakan dan keterampilan tubuh
2.      Memelihara kesehatan dan kebugaran tubuh
3.      Berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan memberi alasan dibalik terjadinya suatu hal (peristiwa)
4.      Mengembangkan konsep diri
5.      Mengasah kelima pancaindera
6.      Mengembangkan rasa ingin tahu
Hurlock (1978) menyebutkan ada 10 aspek perkembangan yang dapat mendorong pertumbuhannya melalui pendidikan prasekolah. Kesepuluh aspek tersebut ialah kesehatan fisik, keterampilan, kemampuan berbicara (berkomunikasi), perkembangan emosi, perilaku sosial, sikap sosial, kreativitas, disiplin, konsep diri dan penyesuaian sekolah. Papalia Olds (1986) menyatakan bahwa pendidikan prasekolah membantu perkembangan anak dalam berbagai aspek yaitu fisik, intelektual, sosial, dan emosional. Adanya kesempatan bermain dengan anak-anak lain menjadikan mereka memiliki banyak kesempatan untuk bekerjasama dan memahami perspektif serta perasaan orang lain.
Ada pun tiga jalur pendidikan prasekolah yakni:
1.      Informal, contohnya pendidikan dalam keluarga
2.      Non formal, contohnya program Tempat Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain (KB)
3.      Formal, contohnya Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak pada Usia Dini (PAUD)

Ciri-Ciri Anak Prasekolah
1.      Ciri Fisik
Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki peguasaan (control) terhadap tubuhnya, sangat meyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Otot-otot besar pada anak pun lebih berkembang daripada control jari dan tangan, itu sebabnya anak pada masa ini biasanya belum terampil dalam kegiatan yang rumit seperti mengikat tali sepatu. Anak juga masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang ukurannya kecil, sehingga koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. Walaupun tubuh anak pada masa ini lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak.

2.      Ciri Sosial
a.       Tingkah laku unoccupied yaitu anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.
b.      Bermain soliter yaitu anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan berbeda dengan apa yang dimainkan oleh teman yang ada di dekatnya. Mereka tidak berusaha untuk saling bicara.
c.       Tingkah laku onlooker yaitu anak menghabiskan waktu dengan mengamati. Kadang memberi komentar apa yang dimainkankan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.
d.      Bermain paralel yaitu anak bermain dengan salin berdekatan, tetapi tidak sepenhnya bermain bersama dengan anak yang lain. Mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara yang tidak saling bergantung.
e.       Bermain asosiatif yaiatu anak bermain dengan anak lain tetapi tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.
f.       Bermain kooperatif yaitu anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi dan pemimpinnya. Masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dokter dan pasien dan lain-lain. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak yang dikemukakan Piaget mengemukakan perkembangan permainan anak usia dini sebagai masa symbolic make play (berlangsung dari 2-7 tahun).

3.      Ciri Kognitif
Piaget berpendapat bahwa, anak pada rentang usia ini, masuk dalam perkembangan berpikir praoperasional konkret. Pada saat ini sifat egosentris pada anak semakin nyata. Anak mulai memiliki perspektif yang berbeda dengan orang lainyang berbeda di sekitarnya. Orang tua sering menganggap periode ini sebagai masa sulit karena anak menjadi susah diatur, bisa disebut nakal atau bandel, suka membantah dan banyak bertanya. Anak mengembangkan keterampilan berbahasa dan menggambar, namun egois dan tak dapat mengerti penalaran abstrak atau logika. Menurut Dewey (1960), pendidik atau orang tua harus memberikan kesempatan pada setiap anak untuk dapat melakukan sesuatu, baik secara individual maupun kelompok sehingga anak akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Adapun Gessel dan Amatruda, mengemukakan bahwa anak usia 3-4 tahun telah mulai mampu berbicara secara jelas dan berarti. Kalimat-kalimat yang diucapkan anak semakin baik, sehingga masa ini dinamakan masa perkembangan fungsi bicara. Selanjutnya, pada usia 4-5 tahun anak mulai belajar matematika.

4.    Ciri Emosional
Anak prasekolah cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia ini. Iri hati pada anak usia dini ini sering terjadi. Mereka sering memperebutkan perhatian guru. Emosi yang tinggi pada umumnya disebabkan oleh masalah psikologis dibanding masalah fisiologis. Orang tua hanya memperbolehkan anak melakukan beberapa hal, padahal anak merasa mampu melakukan lebih banyak lagi. Hurlock mengemukakan ada 6 pola emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak yaitu: amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, kasih sayang.


0 komentar:

Posting Komentar